Tradisi Ilmiah dalam Islam

8:19:00 am
Saat ini Ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan pesat, perkembangan meliputi  berbagai segi kenyataan dalam alam semesta ini. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu dari keterbatasannya. Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab علم, masdar dari عَـلِÙ…َ – ÙŠَـعْـلَÙ…ُ yang berarti tahu atau mengetahui. Menurut konsep (Barat) Ilmu (knowledge) adalah pengetahuan manusia mengenai segala sesuatu yang dapat di indera oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, pengetian, perasaan, dan keyakinan melalui akal atau proses berfikir (logika). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis merupakan formula yang disebut sebagai ilmu pengetahuan (science). Dalam Al-Quran keduanya disebut sebagai “ilmu”. 
Al-Qur’an adalah sumber Ilmu Pengetahuan sekaligus sumber ajaran Agama, yang mendorong manusia untuk “berpikir” dalam hal ini bisa diartikan ”berfilsafat”.
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadist-hadist nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 : 
“ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Didalam Al-Qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 800 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam.
Dalam Ayat Al-Quran QS. Al-Alaq, (96):1-5, artinya :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah.
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dalam ayat-ayat yang pertama kali turun surat Al-Alaq ayat 1-5 tergambar dengan jelas betapa kitab suci Al-Quran memberi perhatian yang sangat serius kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak hanya terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu oleh Allah dirumuskan dalam “lauhil mahfudz” yang disampaikan kepada kita melalui Al-Quran dan As-Sunnah.
Dalam Al-Quran surat Al-Buruuj (85):21-22;
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang mulia.”(21) yang (tersimpan) dalam Lauhil Mahfudz.”(22).
Ayat di atas mengisyaratkan, bahwa ilmu Allah itu melingkupi ilmu  manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri. Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa Al-Quran itu merupakan sumber pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memikul amanah sebagai khalifah Allah di bumi yang pada dasarnya ditugaskan untuk mengurus, memelihara, mengembangkan, mengambil  manfaat bagi kesejahteraan umat manusia.
Disebutkan dalam Al-Quran Q.S. Al-Ahzab(33): 73
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; Dan sehinggga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam Ayat Al-Quran QS. Al-Mulk, (67):1-5
1. Maha Suci Allah di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
2. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekalian tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
4. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.
5. Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang indah dengan bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar syetan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
Tentang hal itu mereka mempunyai perkiraan dan persangkaan, karena mengambil kejahatan mereka dari fenomena-fenomena alamiah yang tumbuh dari panas dan cahaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud ialah bintang-bintang yang dijadikan Allah sebagai hiasan langit dunia tidak akan berpindah dari tempatnya dan tidak dipergunakan untuk melempar. Akan tetapi dari bintang itu keluarlah cahaya yang membunuh jin atau melumpuhkannya.

Perkembangan imu pengetahuan yang luar biasa yang dicapai para ilmuwan biologi, embriologi, genetika, biologi sel, biografi kedokteran, reaksi genetika, dan terakhir klonning hewan sebagai rintisan klonning manusia telah melampaui seluruh ramalan masa depan manusia dan membuat banyak orang terkagum-kagum. Perkembangan dan pemanfaatan sains membuktikan bahwa alam semesta tidaklah tercipta secara kebetulan, karena bila didalamnya terdapat peraturan yang sangat teliti dan hukum yang sangat rapi untuk mengendalikan dan menjalankan alam semesta adanya peraturan dan hukum alam yang sangat akurat ini, tentu saja mengharuskan adanya sang pencipta dan pengatur yang maha berkuasa dan maha bijaksana.


Perkembangan sains yang dicapai para ilmuwan, serta pemanfaatannya yang sangat mengagumkan berkat perkembangan teknologi yang pesat baik yang diterapkan pada manusia, hewan maupun benda mati dan sebenarnya adalah sekelumit rahasia dan hukum alam yang mengendalikan dan mengatur seluruh benda yang ada yang dilekatkan Allah SWT pada benda secara sedemikian rupa, sehingga dapat sesuai dengan kondisi-kondisi yang ditetapkan bagimu.


Kemajuan ilmu tersebut merupakan hasil eksperimen ilmiah dan sains itu sendiri bersifat universal dalam arti tidak secara khusus didasarkan pada pandangan hidup tertentu akan tetapi pengguanaan dan pengambilannya tetap didasarkan pada pandangan hidup tertentu.
Oleh sebab itu walaupun penemuan ilmiah bersifat universal dalam arti tidak secara khusus asalkan pada pandangan hidup tertentu.


Perkembangan ilmiah dalam dunia islam saat ini bisa dikatakan sudah sangat berkembang, dengan selalu berpedoman dengan dalil-dalil Al-Q uran dan Al-hadits insa Allah perkembangan ilmiah akan semakin pesat. Penerapan ilmu ilmiah dalam islam harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bagi kita khususnya masyarakat islam agar tercapai keselarasan antar manusia, alam dan sang pencipta.

WaAllahu a'lam bisshowab

Artikel Terkait

Previous
Next Post »