Contoh Karya Ilmiah (Karil) Sederhana

6:06:00 am
Hai Sobat, membuat Karya Ilmiah (Karil) itu terkadang menjadi beban tersendiri bagi seseorang, karena itu akan kami berikan Contoh Karya Ilmiah Sederhana, dengan adanya contoh berikut semoga bisa meringankan beban dalam membuat Karil.


Abstrak:
Azis Sugihartono, kenakalan remaja: penyebab dan antisipasinya, 50 halaman, 4 bibliografi,

Dalam perkembangan hidup  manusia, masa remaja merupakan masa yang paling rawan. Pada masa ini, seseorang  sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Seringkali kesalahan ini menimbulkan kekesalan bagi lingkungan, yang pada gilirannya disebut sebagai kenakalan remaja.

Dengan demikian, tulisan ini akan melihat lebih jauh tentang faktor-faktor yang dapat menimbulkan kenaklaan remaja, serta bagaimana cara untuk menghindarkan seseorang untuk terlibat dalam kenakalan remaja. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan mengumpulkan data sekunder, serta dengan menggunakan hasil pengamatan.

Dari hasil pengamatan dan data sekunder didapat kesimpulan bahwa remaja memang rawan dengan kenakalan. Kenakalan dapat datang dari berbagai segi, baik dari segi pergaulan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, penghargaan uang, dan perilaku seksual. Oleh karena itu, orang tua, masyarakat, sekolah, dan remaja itu sendiri harus mampu mengendalikan diri untuk menghindari berbuat negatif. Cara yang dilakukan, yaitu menumbuhkan rasa malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat.




KENAKALAN REMAJA:PENYEBAB DAN ANTISIPASINYA

Latar Belakang
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi tua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orang tua hendaknya justru menjadi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak-tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa (Ahmadi, 2006:112). Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang  remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orang tuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahankesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
a.Hal-hal apa sajakah yang dapat menyebabkan timbulnya kenakalan remaja?
b.Bagaimanakah kiat untuk menangkal agar terhindar dari pengaruh kenakalan remaja?


Pembahasan
Hasan (2005:79) mengatakan bahwa masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal tahun 1899 di Amerika Serikat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak di bawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan 18 tahun.

A.Penyebab Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut.

1.Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin  banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan teratas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya.
Di zaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga para orang tuanya. Orang tua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Akan tetapi, jika tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu  pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orang tua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik atau obat terlarang dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja. Oleh karena itu, para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam bergaul. Jangan bergaul dengan kawankawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, akan banyak menimbulkan masalah bagi orang
tuanya. Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, remaja hendaknya mempunyai teman bergaul yang sesuai. Orang tua pun hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Orang tua perlu memberi pengertian yang jelas, sekaligus berilah teladan.
Dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak untuk keluyuran yang tidak menentu dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Para remaja harus berlatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, remaja harus tahu tentang batasan teman yang baik.
Beberapa petunjuk tentang kriteria teman baik adalah sebagai berikut: memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati. Menjaga barangbarang dan harta kita apabila kita lengah. Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya. Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan. Membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi: Penjudi. Orang yang tidak bermoral. Pemabuk. Penipu. Pelanggar hukum.

2.Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Adakalanya sekolah yang penanganannya kurang displin sehingga memungkinkan anak untuk berbuat negatif, misalnya banyaknya jam kosong akan memicu anak ramai dan berbuat onar di kelas.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Namun demikian, kadang-kadang hobi akan mengalahkan segalanya, termasuk tanggung jawabnya sebagai pelajar. Padahal tugas utamanya adalah bersekolah, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utamanya telah selesai dikerjakan. Jika penyaluran hobi salah sasaran, juga akan mengakibatkan berkurangnya pengendalian diri.

3.Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah.
Namun demikian, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orang tuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng dan berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu di malam hari, mencuri, merusak, minum-minuman keras, obat bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawankawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

4.Uang Saku
Orang tua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja harus belajar menghargai nilai uang. Mereka hendaknya berlatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’. Budayakan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun demikian, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah sebagai berikut.
a.Anak menjadi boros.
b.Anak tidak menghargai uang.
c.Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

5.Pergaulan Bebas
Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul dengan lain jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di zaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil.  Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

B.Kiat Mengatasi Kenakalan Remaja
Sebagian besar orang tua di zaman sekarang sangat sibuk mencari  nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, para remaja hendaknya memahami pendidikan hukum, agama, dan sosial. Dengan pendidikan ini kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orang tua dan dapat menjagai dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan bisa dipercaya, karena dapat mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya. Inti pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut.
1.Malu Berbuat Jahat
Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat. Para remaja harus tahu perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Orang tua dan guru memiliki peranan dalam memberikan penjelasan kepada para remaja. Kejelasan orang tua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan.
Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini, semakin awal semakin baik. Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah tumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran remaja punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan masyarakat. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orang tua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orang tua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun demikian, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orang tua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan.
Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orang tua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian orang tua memberikan saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuata itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara, agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
2. Takut Akibat Perbuatan Jahat
Para remaja harus menumbuhkan rasa takut akibat perbuatan jahat. Remaja harus tahu bahwa akibat perbuatan buruk akan berdampak pada remaja itu sendiri, orang tua, keluarganya, serta lingkungannya. Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi pengawas setia dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, pengawas ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun si remaja pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. la akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orang tua dan lingkungannya. Orang tua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang
beranjak remaja. Orang tua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orang tua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya.
Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat
dinikmati hasilnya di hari tua.

Penutup
Remaja memang rawan dengan kenakalan. Kenakalan dapat datang dari berbagai segi, baik dari segi pergaulan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang, penghargaan uang, dan perilaku seksual. Oleh karena itu, orang tua, masyarakat, sekolah, dan remaja itu sendiri harus mampu mengendalikan diri untuk menghindari berbuat negatif. Cara yang dilakukan, yaitu menumbuhkan rasa malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat.

Rujukan
Anindyarini, Atikah. 2008. Bahasa Indonesia: SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
“Cara Penulisan Daftar Pustaka”. Januari 2010. http://skripsimahasiswa.blogspot.com/ diakses 19 Februari 2012.
Murniasih, Tri Retno dan Sunardi. 2008. Pelajaran bahasa Indonesia 3: untuk SMP/MTs kelas IX. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
“Teknik Penulisan Karya Ilmiah, Makalah, Tesis, Disertasi”. 2010. http://www.kosmaext2010.com/ diakses 19 Februari 2012.


Di unduh dari http://joko-suryanto.blogspot.com/2012/02/ragam-karya-ilmiah-sederhana-dan.html, pada hari Senin, 18 Maret 2013, pukul 13.35 WIB.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »